Cerita Pendek Bergenre Fiksi, Budaya
NYAPAT TAON DI KAMPONG BUBUT
Kampung Bubut tidak lagi riuh
oleh gelak tawa anak-anak yang berlarian mengejar kelayang di langit sore,
ataupun gemertak seru permainan pangkak gasing di tanah lapang. Padahal,
menurut tetua terdahulu, gasing-gasing yang berputar kencang dipercaya mampu
memecah rumpun padi agar berbuah lebat, sementara layang-layang raksasa
diterbangkan untuk mengundang angin yang akan menyapu menjauhkan ampak (padi
gabuk yang kosong tanpa isi). Kini, tradisi itu menguap ditelan zaman.
Sementara bau asap sisa pembakaran lahan sawit komersial mengepung kampung,
menyisakan jelaga yang mengotori jemuran warga.
Di tengah hamparan petak ladang
yang menguning, sendirian Pak Long Tapa (74) berdiri tegak. Tatapannya nanar
menembus batas cakrawala. Tahun ini, tidak ada lagi sistem berandep. Yaitu
tradisi gotong royong bergilir yang riang, yang biasanya diisi dengan saling
bantu nandor, nugal, hingga menyantap rebus ubi bersama, semua telah
lenyap. Semua tetangga ladangnya telah banyak berubah menjadi lahan sawit.
Sebagian beralih menjadi buruh harian yang diupah murah di perusahaan sawit
monokultur.
"Bapak! Sampai kapan mau
keras kepala seperti ini?"
Suara lantang itu memecah
keheningan. Ganis (26), anak laki-lakinya yang baru beberapa minggu pulang
merantau dari kota, berjalan cepat meniti pematang. Dengan kasar, ia meletakkan
seonggok dokumen kontrak kemitraan sawit ke atas meja kayu di dalam lakau
(pondok sawah).
"Perusahaan menawarkan
nominal besar untuk membeli tiga hektar ladang kita ini, Pak! Termasuk secuil
kawasan hutan tua di ujung sana," kata Ganis sambil menunjuk batas hutan
adat yang dikenal sebagai Rimba Kumang. "Uang itu bisa membuat kita hidup
layak di kota, tidak usah berkubang lumpur lagi!". Ujar Ganis
Pak Long Tapa tidak bergeming.
Jemari tuanya yang legam tetap menyusun bilah-bilah bambu (buluh), menganyamnya
membentuk wadah bujursangkar. Ia sedang menyiapkan ancak untuk menggelar
ritual Nyapat Taon sendirian. Wadah berkaki empat itu melambangkan empat
penjuru mata angin dan empat malaikat penjaga alam semesta.
Melihat kesibukan ayahnya,
amarah Ganis kian memuncak. "Untuk apa semua takhayul ini, Pak? Kampung kita
sudah tidak ada lagi yang menanam padi! Ritual ini sudah mati karena ladang sudah tidak ada, kalau mau makan ya tinggal
beli beras di pasar!" bentak Ganis.
****
Perselisihan antara ayah dan
anak itu mencapai puncaknya pada suatu sore yang temaram. Ganis yang dirundung
frustrasi melangkah maju, merebut galah bambu penopang ancak dari tangan
ayahnya.
"Kalau Bapak tidak mau tanda
tangan, biar Ganis yang bawa dokumen ini ke kantor perusahaan!" ancam
Ganis dengan mata merah menahan dongkol.
Pak Long Tapa menghentikan
aktivitasnya. Ia berdiri perlahan, lalu menatap anak tunggalnya itu dengan
sepasang mata yang teramat jernih, namun memancarkan aura dingin yang menusuk
tulang.
"Ganis, jangan menjual tanah
suci ini dengan ketamakan kotamu," ucap Pak Long Tapa, suaranya berat dan
bergetar ritmis. "Sebentar lagi jam lima sore. Waktu sengkale ayo
kemas kemas Pulang!"
"Ganis tidak takut sengkale
atau hantu ladang apa pun!." Kata kata itu diteriakkan Ganis dengan nekat.
Tepat di depan mata ayahnya, Ganis menarik paksa anyaman bambu ancak
hingga robek menjadi dua, lalu mencampakkannya ke tanah. Tanpa menoleh lagi,
Ganis membalikkan badan, berjalan cepat menembus kabut sore menuju jalur
perbatasan kebun sawit.
Keesokan harinya, fajar di
Kampung Bubut pecah bersama jerit histeris warga. Sebuah teror mistis yang
mengerikan mendadak melanda desa. Tiga orang mandor perusahaan sawit yang
kemarin mulai memimpin alat berat untuk merambah perbatasan Rimba Kumang,
ditemukan tewas mengenaskan. Tubuh mereka terbujur kaku di rawa-rawa dengan
perut membusung keras, mengeluarkan aroma amis lumpur busuk yang pekat. Yang
membuat bulu kuduk merinding, di samping jasad-jasad itu berserakan berbagai
jenis ketupat ritual yang hancur terinjak-injak.
"Ini kutukan Pak Long
Tapa!" bisik warga yang mulai berkerumun ketakutan. "Dia pasti
menyuruh penunggu alam dari empat penjuru mata angin, Datuk Sakti dan Ratu
Kuning, untuk membalas dendam karena ladangnya diganggu!" sahut yang lain
dengan wajah pucat.
Ganis yang berdiri di tepi
kerumunan merasa jantungnya berdetak tidak keruan. Ada sesuatu yang ganjil dan
tidak masuk akal. Didorong oleh rasa penasaran sekaligus cemas yang menghantui,
Ganis memutuskan untuk menyelidiki hal itu sendiri malam-malam, menyelinap
diam-diam ke dalam kegelapan Rimba Kumang.
****
Suasana di dalam Rimba Kumang
teramat gelap dan sunyi, hanya diiringi suara jangkrik yang bersahut-sahutan.
Langkah kaki Ganis menuntunnya jauh ke bagian dalam hutan basah, hingga ia
menangkap berkas cahaya samar dari balik sebatang pohon raksasa. Di sana, di
dekat sebuah pelantar sesaji kuno, tampak sebuah bayangan misterius berpakaian
jubah hitam longgar layaknya seorang pebayu (pendamping dukun adat).
Sosok itu sedang duduk
bersimpuh, merapalkan mantra-mantra lirih di hadapan sebuah jung atau lanting
(miniatur perahu kayu kecil yang sarat berisi perabah / sesajian ketupat
dan lain lain).
"Bapak..." desis
Ganis. Amarahnya seketika menyala kembali. Ia mengira ayahnya benar-benar telah
nekat membunuh para pekerja sawit. Dengan gerakan cepat dan penuh emosi, Ganis
melompat maju, menyergap bayangan itu dari belakang, lalu merenggut paksa
penutup kepalanya hingga lepas.
"Astagfirullah! Jangan bunuh
aku!" jerit sosok itu histeris sembari mengangkat kedua tangannya.
Ganis terperangah. Jantungnya
serasa copot. Sosok berbaju pebayu itu sama sekali bukan Pak Long Tapa.
Wajah di balik penutup kepala itu adalah Pak Pong, Kepala Kampung Bubut sendiri,
orang yang selama ini paling gencar merayu warga agar mau melepas tanah mereka
ke korporasi sawit.
Sambil menangis tersedu-sedu di
atas tanah yang lembap, Pak Pong akhirnya membongkar rahasia busuk yang selama
ini terpendam.
"Perusahaan sawit itu...
mereka sebenarnya tidak pernah berniat membeli tanah warga dengan harga tinggi,
Ganis!" aku Pak Pong dengan bibir bergetar. "Itu cuma modus. Mereka
sengaja menyuruh orang untuk menaruh zat kimia beracun berskala besar di hulu
rawa-rawa dan batas ladang padi warga. Tujuannya supaya padi-padi kalian
mendadak mati. Kalau petani frustrasi karena gagal panen bertahun-tahun, mereka
pasti terpaksa menjual lahan dengan harga sangat murah!"
Ganis mengepalkan tinjunya.
"Lalu, mandor-mandor yang mati itu gimana ?"
"Mereka kena tulahnya
sendiri!" ratap Pak Pong. "Saat mau menebang pohon di perbatasan
Rimba Kumang, mereka tidak tahu kalau sumber air di sana sudah pekat oleh racun
kimia yang mereka bawa sendiri. Mereka meminum air rawa itu karena kehausan.
Aku... aku diam-diam ketakutan setengah mati, Ganis. Aku tahu aku telah
melanggar Pantang-Penti leluhur karena membantu merusak hutan adat ini.
Makanya malam ini aku nekat berpakaian seperti ini, mencoba menghanyutkan lanting
sesaji sembunyi-sembunyi demi meminta maaf pada alam dan menolak bala agar aku
tidak mati seperti mereka!"
****
Mendengar kenyataan yang begitu
mengerikan, pikiran Ganis langsung tertuju pada ayahnya. Rasa bersalah yang
teramat besar menghunjam dadanya karena telah menuduh sang ayah yang
tidak-tidak. Tanpa memedulikan Pak Pong yang masih meratap, Ganis membalikkan
badan dan berlari sekencang mungkin membelah hutan, menuju pondok lakau
di tengah ladang untuk meminta maaf.
"Bapak! Bapak!" panggil
Ganis terengah-engah sambil membuka pintu pondok bambu mereka.
Suasana di dalam pondok begitu
senyap. Di bawah temaram lampu teplok, Ganis melihat Pak Long Tapa tengah
terduduk kaku di atas tikar pandan tua. Posisinya tegak menghadap jendela yang
terbuka ke arah ladang.
"Pak... Ganis minta maaf.
Ganis sudah tahu semuanya sekarang," ucap Ganis lirih sambil melangkah
mendekat dan menyentuh pundak ayahnya.
Seketika itu juga, tubuh Pak
Long Tapa rebah perlahan. Kulitnya terasa teramat dingin dan kaku. Dari
jemarinya yang melonggar, jatuh segenggam beras kuning dan beberapa ruman (tangkai
padi pertama) yang telah mengering. Pak Long Tapa telah tiada.
Satu jam kemudian, beberapa warga
dan petugas medis darurat dari puskesmas kecamatan yang dipanggil Ganis
memeriksa jenazah di dalam pondok. Dokter muda yang memeriksa menatap Ganis
dengan tatapan penuh simpati, lalu melihat jam tangannya.
"Kami turut berduka cita, Bang
Ganis. Berdasarkan tingkat kekakuan otot dan bintik kematian di tubuhnya, ayah abang
dipastikan sudah meninggal dunia akibat serangan jantung sejak kemarin pagi, " ujar dokter itu dengan tenang.
Mendengar kalimat itu, seluruh
persendian Ganis terasa lolos. Lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk di atas
lantai bilah bambu. Bulu kuduk di sekujur tubuhnya merinding hebat, menciptakan
rasa dingin yang mencengkeram kepalanya.
Kemarin Pagi? batin Ganis menjerit tak percaya.
Jika ayahnya sudah mengembuskan
napas terakhir sejak pagi hari, lalu... siapa sosok tua berwajah
ayahnya yang berdiri tegak menganyam ancak, lalu berdebat hebat dengannya tepat
pada pukul lima sore kemarin di batas waktu sengkale?
Ganis mendongak, menatap ke
arah luar jendela pondok di mana hamparan ladang padi mereka berbatasan
langsung dengan kegelapan Rimba Kumang. Kata-kata terakhir dari sosok
"ayahnya" kemarin mendadak terngiang kembali begitu jelas di
telinganya: tanah ini tidak boleh diubah jadi apapun, sisakan hutan untuk
mahluk hidup lainnya.
Seketika Ganis menyadari sebuah
misteri budaya yang teramat agung. Alam Tanah Kayong rupanya tidak tinggal diam
melihat kepunahan tradisinya. Sadar bahwa sang penjaga janji tanah telah wafat
sebelum menuntaskan tugasnya, alam telah meminjam wujud sakral Pak Long Tapa
sore itu, hadir di batas sengkale untuk memberikan peringatan terakhir
dan menahan jemari Ganis dari dosa ketamakan.
****
Beberapa bulan kemudian,
suasana di tepi sungai Kampung Bubut tampak berbeda di kala subuh yang
berkabut. Perusahaan sawit telah membatalkan seluruh rencana ekspansinya
setelah kedok manipulasi racun mereka dibongkar oleh pihak berwajib atas
kesaksian Pak Pong yang bertobat. Warga kampung, yang diselimuti rasa sesal dan
hormat yang mendalam pada mendiang Pak Long Tapa, perlahan mulai membersihkan
kembali petak-petak sawah yang tersisa mereka dari sisa-sisa racun.
Di tepi sungai yang berarus
tenang, berdiri seorang pemuda dengan pakaian pebayu lengkap milik
mendiang ayahnya. Itu adalah Ganis. Dengan khidmat dan air mata yang mengalir
samar, ia mendorong sebuah miniatur perahu jung ke atas permukaan air,
menghanyutkannya perlahan sebagai bagian dari upacara Nyapat Taon demi
memohon keselamatan baik di darat dan air untuk kampungnya.
Sembari menatap perahu kecil
itu menjauh dibawa arus, Ganis meraba tanah di bawah pijakan kakinya, berbisik
lurus ke dalam sanubarinya. Ia berjanji akan tetap menanam padi, menjaga
keseimbangan Rimba Kumang, dan merawat tanah pusaka ini dengan seluruh sisa
jiwanya sendiri.
TAMAT
%20-%20Copy.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar