KAYONG UTARA – Halaman SMA Negeri 1 Simpang Hilir berubah menjadi panggung budaya yang megah pada Sabtu, 13 Juni 2026. Gabungan seniman dan budayawan Kabupaten Kayong Utara sukses menggelar pementasan Tari Kolosal Semah Laut, sebuah karya pertunjukan berbasis tradisi yang berhasil memukau ratusan mata yang hadir.
Gawai budaya yang
berlangsung khidmat sekaligus meriah ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting
daerah, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kayong
Utara, Camat Simpang Hilir, perwakilan Polsek Simpang Hilir, para pemangku
adat, tokoh budaya, serta barisan seniman lokal Kayong Utara. dan spesial
Maestro Semah laut hadir dari Pulau Karimata yaitu tok Jabar dan tok Sudirman.
Gawai Tari Kolosal
Semah Laut ini merupakan buah dari proses kreatif, latihan intensif, dan
dedikasi panjang yang telah dirintis sejak awal tahun 2026. Langkah besar
kebudayaan ini berhasil diwujudkan berkat dukungan penuh dari program DanaInisiasi (Dana Indonesiana)
Tahun 2026, yang diajukan melalui usulan program oleh pelaku budaya, Arif Surdandi. Dukungan stimulan
ini menjadi motor penggerak bagi para seniman lokal untuk mengeksplorasi
kekayaan tradisi pesisir Kayong Utara ke dalam bentuk seni pertunjukan modern.
Sebelum memasuki
sajian utama, riuh rendah tepuk tangan penonton diawali dengan rangkaian
seremonial pembukaan. Acara dibuka dengan laporan dari Ketua Panitia Pelaksana,
Muhammad Reza, yang kemudian
dilanjutkan dengan sambutan hangat sekaligus apresiasi dari Jumadi Gading selaku Kepala Dinas
Pendidikan Kayong Utara, serta apresiasi pada seniman dan budayawan Kayong
Utara.
Suasana semakin hidup
ketika panggung mulai diisi oleh rangkaian pertunjukan pendukung yang kaya akan
warna dari mulai Tari yang dipersembahkan oleh siswa-siswi SMAN 1 Simpang Hilir. Seni Bertutur, dari
komunitas MTM (Multimedia Teknologi Mandiri). Sastra
Lisan: Pembacaan naskah tradisi Syair Kengkarangan
yang dibawakan oleh Muhammad Firdaus. Atraksi Fisik: Pertunjukan seni
bela diri yang menegangkan dari Perguruan Silat Harimau di bawah asuhan Terry Sabri.
Sebagai sajian puncak,
Tari Kolosal Semah Laut Karimata dihadirkan ke tengah lapangan. Tarian massal
ini diadopsi langsung dari ritual adat Semah Laut milik
masyarakat Kepulauan Karimata, yaitu sebuah ritual pesisir yang telah diakui
secara nasional dan ditetapkan sebagai Warisan
Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI pada tahun 2023 lalu.
Setiap gerakan
koreografi penari merepresentasikan struktur prosesi adat yang sesungguhnya.
Penonton dibawa menyaksikan bagaimana gambaran keseharian masyarakat Kepulauan
Karimata, kesibukan mempersiapkan sesaji, prosesi mengarak replika mini kapal
nelayan dan ancak, hingga visualisasi suasana khusyuk saat pembacaan doa dan syukur
di tepi pantai.
Visualisasi
pertunjukan semakin kuat berkat perpaduan kostum yang dikenakan. Para penari
tampil kontras dan magis, sebagian
mengenakan pakaian adat Melayu pesisir yang anggun, sementara sebagian lainnya
mengenakan kostum teatrikal yang merepresentasikan makhluk gaib penjaga
keseimbangan alam. Seluruh pergerakan ini dikunci oleh aransemen musik Melayu
yang telah direvitalisasi secara modern, namun tetap mempertahankan ritme-ritme
sakral asli ritualnya.
Dalam filosofi budaya
Melayu setempat, kata "Semah"
berarti sesaji atau merawat. Ritual Semah Laut sendiri merupakan representasi
agung dari rasa syukur kolektif para nelayan atas melimpahnya hasil lautan dan
daratan Karimata, sekaligus menjadi simbol doa komunal memohon keselamatan,
keberkahan, serta perlindungan dari marabahaya selama mereka mencari nafkah di
samudera.
Lewat pementasan
kolosal ini, para seniman Kayong Utara tidak sekadar menyuguhkan tontonan
visual, melainkan berhasil memindahkan napas spiritualitas masyarakat Kepulauan
Karimata ke atas panggung edukasi bagi generasi masa depan. MH


Tidak ada komentar:
Posting Komentar