PANGKALAN BUN — Hubungan kekerabatan historis lintas provinsi antara
Kesultanan Kotawaringin (Kalimantan Tengah) dan Kesultanan Matan (Kalimantan
Barat) kembali mencuat ke permukaan. Hubungan darah yang telah terajut sejak
abad ke-15 tersebut kini diperingati melalui serangkaian agenda napak tilas
budaya dan silaturahmi antartokoh juriat di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat.
Ikatan
historis kedua wilayah ini berakar dari silsilah pernikahan politik masa lalu.
Raja pertama Kotawaringin, Pangeran Adipati Antakusuma, putra dari Sultan
Musta'in Billah (Kesultanan Banjar) memiliki tiga orang anak, yakni Putri
Lanting, Putri Gelang, dan Pangeran Mas Dipati.
Peta
silsilah mulai menyatu saat Putri Gelang dipersunting oleh penguasa Kerajaan
Tanjungpura era Sukadana (yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Matan), yaitu
Panembahan Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syafiuddin. Pernikahan ini
melahirkan garis keturunan yang kelak turun-temurun memerintah di kedua
imperium tersebut, termasuk melahirkan nama topomini dengan sebutaan baru yakni
“Matan Tanjungpura”. Topomini tersebut yakni Matan dan Tanjungpura adalah
imperium yang berbeda era namun satu garis. Keduanya diambil menjadi nama baru yakni
“Matan Tanjungpura” dengan tujuan sebagai bentuk kegungana akan kejayaan pada masa
lalu.
Sebagai bagian dari refleksi
sejarah, Komandan Polisi Militer Kabupaten Kotawaringin Barat, Kapten Heryanto,
melakukan kunjungan khusus ke Istana Mangkubumi di Pangkalan Bun. Didampingi
oleh Uti Muhammad Ehsan, yang merupakan juriat (keturunan) langsung dari
Kesultanan Kotawaringin dan Matan Tanjungpura, kunjungan ini bertujuan untuk
melihat langsung kondisi fisik bangunan sekaligus meninjau benda cagar budaya
di dalamnya.
Di dalam
istana kayu ulin tersebut, masih tersimpan dengan baik artefak peninggalan
Pangeran Ratu Anom Kusuma Yuda, Sultan ke-11 Kotawaringin yang juga dikenal
sebagai penganut aliran sufi Thariqat Naqsyabandiyah. Salah satu bukti autentik
yang paling berharga adalah naskah manuskrip tulisan tangan sang sultan sendiri
yang telah berusia 230 tahun. Manuskrip tersebut diselesaikan pada hari Jumat,
15 Jumadil Awal 1237 Hijriah, bertepatan dengan momen khataman Al-Qur'an
beliau.
Selain
itu, terdapat koleksi kitab kuno multi-disiplin ilmu, termasuk sebuah Kitab
Shalawat langka yang pada bagian mukadimahnya memuat kalimat tauhid: "Tidak Aku ciptakan langit
dan bumi ini kalau bukan karena engkau yaa Muhammad."
Kunjungan
ini juga dihadiri oleh Joko, ST, seorang tokoh Dayak asal Kecamatan Kinipan
sekaligus alumnus Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dari kacamata
teknis, Joko mengaku takjub dengan struktur bangunan panggung abad ke-19
tersebut.
"Rancangan
arsitektur dan sistem sambungan kayu istana ini sangat luar biasa. Sebagai
orang teknik, saya sangat terpukau melihat bagaimana bangunan ini bisa bertahan
ratusan tahun menghadapi cuaca," ujar Joko.
Meski
demikian, kondisi fisik bangunan mulai mengkhawatirkan. Uti Muhammad Ehsan
berharap pemerintah daerah dan pusat memberikan perhatian serius, terutama pada
bagian atap sirap ulin yang kini mulai mengalami kerusakan dan kebocoran.
Di hari yang sama, dinamika
sejarah ini berlanjut pada ruang silaturahmi modern. Perwakilan juriat dari
Kalimantan Barat bersama Gusti Masdani (juriat Kotawaringin Barat) menghadiri
undangan dari Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Dr. H. Rahmat
Nasution Hamka, SH, M.Si.
Acara yang
digelar di Pangkalan Bun tersebut merupakan peringatan Haul Ibunda ke-7
sekaligus Milad Ayahanda dari Rahmat Nasution Hamka yang ke-84 tahun. Agenda
bernuansa religius dan kultural ini dihadiri oleh berbagai elemen penting
daerah, mulai dari Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kotawaringin Barat Sayyid
Muhammad Basyaiban yang memimpin doa bersama, Wakil Komandan Pos TNI AL Kobar,
anggota DPR, pejabat pemerintah, pimpinan pondok pesantren, hingga tokoh adat
setempat.
Di
sela-sela acara, Uti Muhammad Ehsan selaku perwakilan dua kerajaan memanfaatkan
momen tersebut untuk berdialog dengan Rahmat Nasution Hamka yang akrab disapa
Abah Anom. Untuk diketahui, Abah Anom sendiri memiliki garis keturunan dari
Kyai Cawang Sari, tokoh penting yang makamnya berada di dalam kompleks kubah
utama makam raja-raja Kotawaringin.
Ehsan
menitipkan aspirasi agar disampaikan langsung kepada Gubernur Kalimantan Tengah
terkait percepatan pemugaran situs-situs bersejarah, salah satunya adalah
Istana Di Asam yang terletak di Kotawaringin Lama.
"Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini bisa berdiri tegak karena adanya
sumbangsih dan kedaulatan kerajaan serta kesultanan di masa lampau. Pemugaran
dan perawatan situs sejarah ini bukan sekadar urusan fisik, melainkan jembatan
agar generasi muda paham akar perjuangan leluhur mereka dalam melawan
kezhaliman penjajah," tegas Ehsan menutup dialog. MH.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar