Jejak Ikatan Darah Dua Kesultanan, Kotawaringin & Matan - Warta Kayong

Breaking

Sabtu, 04 Juli 2026

Jejak Ikatan Darah Dua Kesultanan, Kotawaringin & Matan



PANGKALAN BUN — Hubungan kekerabatan historis lintas provinsi antara Kesultanan Kotawaringin (Kalimantan Tengah) dan Kesultanan Matan (Kalimantan Barat) kembali mencuat ke permukaan. Hubungan darah yang telah terajut sejak abad ke-15 tersebut kini diperingati melalui serangkaian agenda napak tilas budaya dan silaturahmi antartokoh juriat di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat.

Ikatan historis kedua wilayah ini berakar dari silsilah pernikahan politik masa lalu. Raja pertama Kotawaringin, Pangeran Adipati Antakusuma, putra dari Sultan Musta'in Billah (Kesultanan Banjar) memiliki tiga orang anak, yakni Putri Lanting, Putri Gelang, dan Pangeran Mas Dipati.

Peta silsilah mulai menyatu saat Putri Gelang dipersunting oleh penguasa Kerajaan Tanjungpura era Sukadana (yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Matan), yaitu Panembahan Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syafiuddin. Pernikahan ini melahirkan garis keturunan yang kelak turun-temurun memerintah di kedua imperium tersebut, termasuk melahirkan nama topomini dengan sebutaan baru yakni “Matan Tanjungpura”. Topomini tersebut yakni Matan dan Tanjungpura adalah imperium yang berbeda era namun satu garis. Keduanya diambil menjadi nama baru yakni “Matan Tanjungpura” dengan tujuan sebagai bentuk kegungana akan kejayaan pada masa lalu.

Sebagai bagian dari refleksi sejarah, Komandan Polisi Militer Kabupaten Kotawaringin Barat, Kapten Heryanto, melakukan kunjungan khusus ke Istana Mangkubumi di Pangkalan Bun. Didampingi oleh Uti Muhammad Ehsan, yang merupakan juriat (keturunan) langsung dari Kesultanan Kotawaringin dan Matan Tanjungpura, kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi fisik bangunan sekaligus meninjau benda cagar budaya di dalamnya.


Di dalam istana kayu ulin tersebut, masih tersimpan dengan baik artefak peninggalan Pangeran Ratu Anom Kusuma Yuda, Sultan ke-11 Kotawaringin yang juga dikenal sebagai penganut aliran sufi Thariqat Naqsyabandiyah. Salah satu bukti autentik yang paling berharga adalah naskah manuskrip tulisan tangan sang sultan sendiri yang telah berusia 230 tahun. Manuskrip tersebut diselesaikan pada hari Jumat, 15 Jumadil Awal 1237 Hijriah, bertepatan dengan momen khataman Al-Qur'an beliau.

Selain itu, terdapat koleksi kitab kuno multi-disiplin ilmu, termasuk sebuah Kitab Shalawat langka yang pada bagian mukadimahnya memuat kalimat tauhid: "Tidak Aku ciptakan langit dan bumi ini kalau bukan karena engkau yaa Muhammad."

Kunjungan ini juga dihadiri oleh Joko, ST, seorang tokoh Dayak asal Kecamatan Kinipan sekaligus alumnus Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dari kacamata teknis, Joko mengaku takjub dengan struktur bangunan panggung abad ke-19 tersebut.

"Rancangan arsitektur dan sistem sambungan kayu istana ini sangat luar biasa. Sebagai orang teknik, saya sangat terpukau melihat bagaimana bangunan ini bisa bertahan ratusan tahun menghadapi cuaca," ujar Joko.

Meski demikian, kondisi fisik bangunan mulai mengkhawatirkan. Uti Muhammad Ehsan berharap pemerintah daerah dan pusat memberikan perhatian serius, terutama pada bagian atap sirap ulin yang kini mulai mengalami kerusakan dan kebocoran.

Di hari yang sama, dinamika sejarah ini berlanjut pada ruang silaturahmi modern. Perwakilan juriat dari Kalimantan Barat bersama Gusti Masdani (juriat Kotawaringin Barat) menghadiri undangan dari Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Dr. H. Rahmat Nasution Hamka, SH, M.Si.

Acara yang digelar di Pangkalan Bun tersebut merupakan peringatan Haul Ibunda ke-7 sekaligus Milad Ayahanda dari Rahmat Nasution Hamka yang ke-84 tahun. Agenda bernuansa religius dan kultural ini dihadiri oleh berbagai elemen penting daerah, mulai dari Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kotawaringin Barat Sayyid Muhammad Basyaiban yang memimpin doa bersama, Wakil Komandan Pos TNI AL Kobar, anggota DPR, pejabat pemerintah, pimpinan pondok pesantren, hingga tokoh adat setempat.

Di sela-sela acara, Uti Muhammad Ehsan selaku perwakilan dua kerajaan memanfaatkan momen tersebut untuk berdialog dengan Rahmat Nasution Hamka yang akrab disapa Abah Anom. Untuk diketahui, Abah Anom sendiri memiliki garis keturunan dari Kyai Cawang Sari, tokoh penting yang makamnya berada di dalam kompleks kubah utama makam raja-raja Kotawaringin.

Ehsan menitipkan aspirasi agar disampaikan langsung kepada Gubernur Kalimantan Tengah terkait percepatan pemugaran situs-situs bersejarah, salah satunya adalah Istana Di Asam yang terletak di Kotawaringin Lama.

"Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini bisa berdiri tegak karena adanya sumbangsih dan kedaulatan kerajaan serta kesultanan di masa lampau. Pemugaran dan perawatan situs sejarah ini bukan sekadar urusan fisik, melainkan jembatan agar generasi muda paham akar perjuangan leluhur mereka dalam melawan kezhaliman penjajah," tegas Ehsan menutup dialog. MH.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar