Analisis Situs Keramat Sekusor
& Manuskrip VOC 1698
Menelusuri jejak ibu kota pertama Kesultanan Matan melalui integrasi data arkeologi permukaan dan arsip kolonial Belanda.
Pengantar Wilayah
"Sekusor bepagar bukit, banyak keramat di daratnye, hatiku bujo di buat sakit, adak selamat pendapatnye." – Pantun sumpah Gusti Panji (Raja Simpang Matan VII) ini menjadi pintu gerbang memahami Sekusor bukan sekadar situs pemakaman, melainkan simbol perlawanan dan identitas peradaban Melayu di tepian Sungai Lubuk Batu. Bagian ini menjelaskan bagaimana lingkungan alam sungai membentuk pola pemukiman masa lalu.
Sebaran Data Arkeologis
Klik pada zona di bawah ini untuk melihat detail temuan fisik di kawasan Keramat Sekusor.
Makam Nisan Tipe Gada
Terletak di dalam cungkup (5x5m), nisan ini berbahan batu karang dengan motif indah. Tipologi Gada ini dipengaruhi peradaban Turki Othman (Abad 17-18 M). Identik dengan pusara Sultan Muhammad Zainuddin (Sultan Van Sekusor).
- ◇ Koordinat: 1° 0'35.13"S - 110° 8'50.11"E
- ◇ Dimensi Jirat: 290 cm x 75 cm
- ◇ Kondisi: Telah dimodifikasi (dicat kuning)
Nisan Batu Pipih
Berjarak 50 meter dari cungkup utama. Menggunakan batu andesit dengan bentuk menyerupai kubah masjid. Berada di "mungguk" (tanah tinggi) yang disengaja untuk penghormatan.
- ◇ Masa Gaya: Abad ke-18 - 19 M
- ◇ Tinggi Jirat: 60 cm dari permukaan tanah
- ◇ Status: Diduga kerabat raja
Makam Kayu Ulin
Terdiri dari nisan-nisan berbahan kayu belian (ulin) yang telah lapuk dan ditumbuhi lumut. Bukti penggunaan bahan lokal yang sangat kuat untuk menandai status sosial di masa lalu.
*Kondisi saat ini rusak parah akibat faktor alam dan kurangnya perawatan.
Kawasan Pemukiman Kuno
Berjarak 200 meter dari makam. Ditemukan fragmen keramik lintas peradaban (Dinasti Ming abad ke-16 hingga Dinasti Qing abad ke-18).
Pola Keruangan:
Sistem Hulu-Hilir Kalimantan
Analisis geomorfologi menunjukkan bahwa pusat-pusat kesultanan Melayu di Kalimantan Barat selalu menempati lokasi strategis di pertemuan dua atau tiga sungai. Sekusor mengikuti pola yang sama, membuktikan fungsinya sebagai pusat pemerintahan masa lalu.
Muara Ulakan (Sambas)
Pertemuan Sungai Sambas, Subah, dan Teberau.
Kadriyah (Pontianak)
Pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.
Sekusor (Matan)
Aliran Sungai Sidiau (Sijo) / Lubuk Batu.
Perbandingan Pertemuan Sungai
Data menunjukkan kesamaan pola 100% pada struktur riparian kesultanan Melayu di Kalimantan Barat.
Manuskrip VOC 1698
Arsip Dagregister Kastil Batavia mengungkap konflik diplomatik dan bukti nyata Sekusor sebagai ibu kota.
Sultan Van Sekusor
George Müller (1822) mencatat Sultan Muhammad Zainuddin sebagai raja Matan pertama yang beribu kota di Sekusor. Beliau memerintah pada 1694 - 1725.
Perang Intan 1698
Manuskrip VOC mencatat sengketa antara Sukadana dan Banten memperebutkan kontrol atas wilayah Landak. VOC melakukan intervensi diplomatik untuk mengamankan perdagangan.
Komoditas Indigo
Laporan ekonomi VOC 1 Oktober 1698 mencatat pengumpulan komoditas indigo (nila) berkualitas murni di kawasan Tanjungpura (Sukadana/Matan) untuk industri tekstil Eropa.
📜 Intisari Manuskrip 30 September 1698
VOC memerintahkan Sultan Sukadana untuk tidak memberikan tekanan fisik pada penduduk Landak dan menjamin perdagangan bebas cukai. Dokumen ini membuktikan posisi tawar Sukadana yang kuat namun terhimpit kepentingan kolonial.
Nama "Sekusor" muncul sebagai domisili Sultan dalam catatan regional, mengonfirmasi bahwa saat pesisir (Sukadana) menjadi emporium, pedalaman (Matan/Sekusor) menjadi benteng politik dan kediaman sakral.
Delineasi & Masa Depan Situs
Berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010, Keramat Sekusor memenuhi kriteria sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Penentuan batas menggunakan kombinasi Batas Budaya (sebaran nisan) dan Batas Alam (tepian sungai dan mungguk).
Ancaman Terkini:
Eskalasi perkebunan sawit PT. CUS dan PT. Jalin Vaneo yang menghimpit zona inti situs, serta sulitnya aksesibilitas jalan darat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar