Rahasia Ilmu Jala Embun dan Legenda Tembakan dari Tanah Kayong
Penulis : Raden Hardinoto
Dalam tradisi Melayu
di tanah Kayong dan Simpang, senjata api atau senapan bukan sekadar alat tempur
saja melainkan memiliki makna filosofi dan makna mendalam. Ia disebut "Senapas" karena adanya penyatuan batin
antara penembak dengan senjatanya. Berikut adalah beberapa jenis teknik
tembakan legendaris yang tercatat dalam tutur lisan lokal masyarakat:
1. Tembakan Kayu Are Belit (Tembakan Jin)
Sebuah teknik tingkat
tinggi untuk menyasar target yang tidak terlihat langsung oleh mata. Tembakan
ini digunakan jika musuh berlindung di balik benda keras seperti batu besar
atau pohon kayu yang rapat. Konon, peluru dari tembakan ini bisa
"mencari" jalannya sendiri untuk mengenai sasaran di balik
penghalang.
2. Tembakan Malaikat
Teknik ini digunakan
dalam kondisi minim cahaya atau situasi yang bergerak cepat. Tembakan ini
dilepaskan ketika pemburu atau pejuang hanya melihat kilatan mata musuh,
mendengar suaranya saja, atau saat sasaran sedang berlari dan terbang di
kegelapan malam.
3. Tembakan Raje Dalam Kute
Tembakan ini adalah
"juru selamat" di saat genting. Digunakan ketika musuh seolah tak
terkalahkan oleh peluru biasa, dan amunisi sudah hampir habis (peluru tinggal selumeh, bubuk mesiu tinggal setungkah).
Menurt tutur lisan tembakan ini
pernah digunakan di
era Sukadana saat menghadapi serangan kerajaan dari luar Kalimantan. Peluru
meriam musuh konon hancur menjadi debu sebelum sampai, namun pimpinan armada
musuh (seorang Patih) akhirnya tumbang oleh tembakan ini. Ciri khasnya, laras
senapan diikat dengan Kain Kuning sebagai simbol
kedaulatan dan kekuatan.
4. Keputusan Tembak
Tembakan ini
mengandalkan keyakinan penuh untuk mematahkan ilmu kebal lawan.
Menurut tutur lisan ini pernah dilakukan oleh Uti Rahadi Usman saat melawan serdadu Belanda di Sungai
Besar. Pemimpin Belanda tersebut konon bisa menangkap peluru dengan saputangan
(yang ternyata diberikan oleh pengkhianat bangsa). Namun, dengan teknik
"Keputusan Tembak", kehebatan alat tersebut berhasil ditembus.
5. Tembakan Tua (Serasa Serahasia)
Ini adalah tembakan
yang menguji kemurnian hati dan ketepatan yang mustahil secara nalar.
Dikisahkan seorang
Pangeran Simpang mengikuti sayembara untuk meminang putri Raja Simpang.
Syaratnya adalah menembak sang putri yang dibatasi kain kuning sebatas dada.
Dengan Tembakan Tua, peluru pangeran hanya menggunting pakaian sang putri tanpa
melukai kulit atau mencabut sehelai bulu pun. Sebuah pembuktian penguasaan diri
yang sempurna.
Selain senapan,
senjata jenis "Segenggam" yang bernama Jala Embun memiliki kisah
di Simpang Matan. Dikisahkan seorang pendekar dari Tiongkok yang sangat hebat;
ia mampu melawan empat orang sekaligus di atas meja tanpa bisa disentuh oleh
keris maupun pedang.
Ketika para pendekar
lain mulai tawar hati, muncul seorang pendekar dari hulu Simpang. Ia turun
untuk "mengambil malu" (memulihkan kehormatan) dengan berbekal Jala Embun. Singkat cerita, pendekar Tiongkok tersebut
berhasil ditundukkan.
Sang Raja sempat menampar rakyatnya (pendekar
tersebut). Namun, itu bukanlah tamparan kemarahan, melainkan "Tamparan Kasih”, sebuah bentuk kebanggaan dan
rasa haru seorang pemimpin atas keberanian rakyatnya yang telah membela harga
diri bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar