RIAM DANAU, KETAPANG – 27 Juni 2026 — Dalam upaya melestarikan warisan budaya sekaligus merajut kembali tali persaudaraan lintas etnis, masyarakat Kecamatan Jelai Hulu menggelar perhelatan akbar Tradisi Makan Bubur Asyura 10 Muharram di Riam Danau, pada tanggal 26 Juni. Acara ini bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, melainkan juga sebagai wadah napak tilas sejarah yang mempertemukan kembali garis kekerabatan Kesultanan Kotawaringin, Kesultanan Matan Tanjungpura, dan masyarakat adat Dayak.
Tokoh Adat Riam Danau sekaligus Pelaksana Harian Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Jelai Hulu, Uti Dartani, menjelaskan bahwa tradisi Bubur Asyura khas Melayu Riam Danau ini telah berakar sejak tahun 1847 Masehi.
"Tradisi budaya ini merupakan peninggalan Pangeran Mangkurat atau Gusti Hidayat, Perdana Menteri Matan Tanjungpura. Beliau adalah putra dari Pangeran Kusuma Agung Ningrat dari Kotawaringin dan Ratu Jamilan, putri Sultan Matan, Sultan Muhammad Zainuddin Mursal Ibnu Iranata. Warisan ini kemudian dilanjutkan secara turun-temurun hingga saat ini," ujar Uti Dartani.
Kegiatan yang baru pertama kali diadakan dalam skala besar ini mencerminkan kuatnya pluralisme di Jelai Hulu. Ketua Panitia Pelaksana, Uti Muhammad Ehsan, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas antusiasme serta kehadiran para tokoh dari berbagai daerah dan latar belakang etnis.
"Kegiatan ini diadakan untuk pertama kali secara luas dan kami sangat mengapresiasi kehadiran Camat Jelai Hulu yang diwakili Kasi Tapem, yang berharap perhelatan ini menjadi agenda tahunan. Kami juga menyambut hangat para tamu undangan dari perwakilan juriat Kotawaringin, Sukamara, Kecamatan Manis Mata, Ketua Laskar Kedang Tumbang Titi, juriat Pangeran Sepuh dari Tumbang Titi dan Pesaguan, juriat Kecamatan Sandai, hingga saudara Ardianto dari juriat Sentiman Semenjawat," ungkap Uti Muhammad Ehsan kepada awak media.
Ia menambahkan, kehadiran elemen adat Dayak menjadi pemanis sekaligus penegas keharmonisan di wilayah tersebut. "Yang membuat kegiatan ini semakin hangat adalah kehadiran Bapak Muliadi selaku Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Jelai Hulu. Kehadiran beliau merupakan simbol nyata persaudaraan antar-suku, agama, dan golongan, yang menjadi penyemangat bertumbuhkembangnya Bhinneka Tunggal Ika di tanah Jelai," tambah Ehsan.
Dukungan penuh terhadap keharmonisan ini juga mengalir dari Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), DR. H. Rahmat Nasution Hamka, S.H., M.Si., serta Raja Simpang Matan dari Kabupaten Kayong Utara, Gusti Muhammad Hukma, S.E. (Sultan Muhammad Jamaluddin III).
Momen bersejarah lainnya dalam rangkaian acara ini adalah prosesi ziarah dan pemasangan tiang nisan untuk Nek Cawan di pemakaman Sungai Kabung, Sengkerupi, Desa Kusuma Jaya. Nek Cawan merupakan seorang Putri Dayak dari Air Upas yang dipersunting oleh Pangeran Kusuma Agung Ningrat. Sebelum pemasangan nisan, para undangan juga berziarah ke makam Pangeran Kusuma Agung Ningrat dan Ratu Jamilan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penuh haru melalui aksi filantropi di Masjid Syuhada Riam Danau Kanan. Salah satu juriat Pangeran Kusuma Agung, Utin Tahra binti Uti Badru Zaman, menyerahkan hibah sebidang tanah seluas 2,83 hektar kepada Rois Syuriah PCNU Kabupaten Ketapang sekaligus Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Darul Fadhilah, Syaikh Muhammad Abdul Quddus, S.Th.I. Tanah tersebut rencananya akan dibangun menjadi Madrasah Darul Fadhilah Riam Danau.
Dalam taushiyahnya, Syaikh Quddus sangat mengapresiasi kerukunan warga dan menekankan pentingnya menjaga semangat persatuan. "Momen ini membuktikan bahwa perbedaan suku dan agama bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus kita rawat bersama untuk kemajuan umat dan masyarakat luas," tutur Syaikh Quddus.
Meskipun panitia sempat menyayangkan ketidakhadiran perwakilan aparat keamanan setempat meski undangan telah disampaikan, acara tetap berjalan dengan sangat lancar dan penuh khidmat. Masyarakat berharap, peringatan 10 Muharram ini dapat ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan yang mendapat dukungan penuh dari seluruh pihak, guna menjaga kelestarian sejarah dan keharmonisan di bumi Jelai Hulu.
Panitia pelaksana merupakan gabungan tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan juriat kesultanan di wilayah Kecamatan Jelai Hulu yang berkomitmen untuk menggali, melestarikan, dan memperkenalkan sejarah serta budaya Melayu-Dayak Riam Danau sebagai kekuatan pemersatu bangsa.
.jpeg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar